Jumat, 21 Agustus 2009

satu kisah

Dalam Satu Kisah

Aku merasakan hingga tak bisa percaya, kala memegang tanganmu dan mengarahkan tarian dalam alunan musik indah sesuatu yang ada di matamu memberikan makna beda mengartikan kesedihan dan keluarlah dari nafasmu dengan kalimat selamat tinggal.

Kini tak pernah lagi aku untuk menari, tiap langkah kaki sudah tidak mampu mengikuti irama lagu. Kaku, tak mampu berdiri, tak dapat melangkah, tak seperti kemarin saat kita masih bersama.

Malam ini musik terdengar begitu nyaring, begitu merdu, menenangkan jiwa, aku ingin bisa mencoba hilangkan kesedihan yang terus berkerumun didada. Barangkali ini adalah cara untuk dapat membesarkan hati,… tapi sumpah!! Tidak akan secepat itu. Mungkin aku butuh waktu untuk bisa melupakan semuanya, berbulan-bulan atau bertahun-tahunkah? Atau kan kubawa sampai mati?

Siapa kamu sebenarnya? Telah begitu beri pengaruh dalam hidupku? Sekejap hilang dan memberikan bekas yang dalam... sungguh hebat kubilang dengan raut muka yang sinis, hingga hampir kumerasa gila... dan memukul dinding kamarku. Ada apa?

Saatnya ku berdo’a tak sekedar memohon tapi meminta dengan seluruh jiwa, kemudian kan kucoba lagi tuk melupakan.. dan lagi melupakan... lupakan.. lupakan... dan.... lupakan!!

Hingga akhirnya kuterlelap tanpa mimpi-mimpi yang teringat, dan apakah yang terjadi sampai fajar menampakkan dirinya?? Bersambung...

Tidak ada komentar: