Sabtu, 22 Agustus 2009

Hari-hariku Tanpanya

Saat siang ku telusuri jalan, tertunduk malu dalam kesendirian. Bak menghitung bebatuan yang terinjak, sesekali aku mendongak keatas, kupandangi langit biru polos, tanpa segumpal hiasan awan. Kuibaratkan hatiku yang tetap berusaha tulus saat ia tak ada di sisi. Kubiarkan kupingku mendengar ejekan pepohonan yang berjajar, menghardik wajahku yang penuh kesuraman, memaki hatiku yang penuh penantian.

Namun…
Saat malam merambat jagad tak jua ku rasa sorakan daun yang melambai ibarat tangannya yang kurasa hanyalah kesepian dan kedinginan hmm… Dunia serasa berubah, akupun terlelap setelah menyebut namanya. Dan hadirlah kata ia dalam hiasan tidur yang disebut mimpi.

Hingga…
Pagi menjelang, kudengarkan lagu yang bukanlah lagunya, melainkan kicauan burung yang menyambut mentari. Akupun terbangun bangkit dari khayalan mimpi diwaktu malam. Kulalui terbitnya di ufuk timur dengan menanti hingga tenggelam di ufuk barat. Inilah hari-hariku tanpanya…

Tidak ada komentar: